Showing posts with label Tujuan. Show all posts
Showing posts with label Tujuan. Show all posts

Wednesday, February 4, 2015

Bali Kelebihan Hotel

Wisatawan menikmati sore di Pantai Kuta, Bali, Sabtu (22/6/2013). Keindahan wisata pantai di sejumlah kawasan di Bali seperti Kuta, Seminyak, Jimbaran, Nusa Dua dan Tanjung Benoa masih menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Jumlah hotel di Bali, terutama di wilayah selatan, yang terus bertambah setiap tahun sudah melebihi kebutuhan. Buktinya, tingkat hunian 2.212 hotel dengan total 50.000 kamar di Bali terus menurun lima tahun terakhir meski jumlah wisatawan meningkat.

Jumlah 2.212 hotel dengan total 50.000 kamar tersebut adalah yang tercatat di Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Diperkirakan, jumlah riil kamar hotel/penginapan di Bali lebih dari 60.000 ruangan karena adanya bangunan vila atau pondok wisata serta penginapan ilegal. Hal ini berdampak, salah satunya, penurunan tingkat hunian hotel dari rata-rata 62 persen per tahun pada 2011-2013 menjadi 51 persen pada 2014.

”Kami menduga ini adanya persebaran wisatawan menginap, apalagi jumlah hotel dan kamarnya puluhan ribu, terutama yang ilegal,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali AA Yuniartha Putra, di Denpasar, Selasa (3/2/2015).

Penurunan tingkat hunian merata di Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar, Karangasem, dan Buleleng. Bahkan, penurunan tingkat hunian hotel di Tabanan cukup drastis, yaitu dari 75 persen pada November 2014, menjadi hanya 55 persen pada Desember 2014. Tingkat hunian hotel-hotel di Buleleng terendah, yaitu 30,36 persen.

”Kami heran juga dengan penurunan tingkat hunian ini karena wisatawan naik dan liburan pun banyak di akhir tahun lalu,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Bali Panusunan Siregar.

Hal tersebut membuat pelaku usaha khawatir. Jika pembangunan hotel tak terkendali, justru membuat karyawan industri pariwisata menganggur, meski jumlah wisatawan meningkat setiap tahun.

Jumlah wisatawan di Bali terus meningkat. Jumlah wisatawan mancanegara pada 2013, misalnya, sebanyak 3.278.598 orang, pada 2014 meningkat menjadi 3.766.638 orang.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ngurah Wijaya berharap ada kesadaran pemerintah kabupaten/kota di Bali bagian selatan untuk mengatur pembangunan hotel/penginapan baru. Ini sekaligus untuk mendorong penyebaran pembangunan hotel/penginapan di wilayah lain.

Tak berdaya

Pemerintah provinsi pun tak berdaya mengendalikan pembangunan hotel di Bali karena ajakan moratorium pembangunan hotel tidak direspons kabupaten/kota, terutama di Bali bagian selatan. Di Denpasar, misalnya, pembangunan city hotel merebak. Namun, hal ini dinilai belum mengganggu.

Pantai Pandawa di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Yuniartha Putra mengatakan, pihaknya kesulitan mengimbau moratorium hotel, terutama di Badung dan Denpasar. Investasi di industri pariwisata pun, lanjutnya, masih melirik Bali bagian selatan. ”Kami hanya bisa berharap kabupaten/kota menyadari sudah penuhnya kamar hotel,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Badung memutuskan tidak menerapkan moratorium hotel. Alasannya, kata Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Badung AA Raka Yuda, terlalu kaku. Namun, katanya, pihaknya berupaya mempersulit perizinan pembangunan hotel baru. Ia mencontohkan hotel harus menyediakan lahan parkir, lahan tidak boleh kurang dari 1 hektar.

Menurut pengamat pariwisata dan ekonomi Universitas Udayana, I Wayan Ramantha, agar pembangunan hotel merata, Bali harus bisa berkreasi dalam mengolah destinasi pariwisatanya, terutama yang berada di Bali bagian utara, timur, dan barat. Dia optimistis, pariwisata masih bisa menjadi andalan Pulau Bali.

Sementara itu, Pemerintah Kota Denpasar terus mengembangkan potensi wisata yang ada. Pemkot Denpasar berencana meluncurkan Heritage City Tour atau paket wisata budaya perkotaan pada Maret mendatang.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkot Denpasar, Ida Bagus Rahoela mengatakan, obyek-obyek wisata yang akan dimasukkan paket tersebut antara lain Museum Bali, Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, dan kawasan Catur Muka Kota Denpasar.

Arief Yahya: Pariwisata Kota Tua Lebih Siap Dijual

Warga memadati Taman Fatahillah di Kota Tua, Jakarta Barat, Jumat (26/12/2014). Libur panjang natal dan tahun baru, Taman Fatahillah salah satu tempat tujuan wisata yang diminati warga.

"Dari sisi pariwisata Kota Tua lebih mudah dijual," ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya saat ditemui dalam acara perayaan terpilihnya Kota Tua Jakarta sebagai nominasi UNESCO World Heritage Site, Selasa (3/2/2015) di Batavia Café, Kota Tua.

Arief Yahya sangat mendukung Kota Tua Jakarta sebagai nominasi UNESCO World Heritage Site yang diseleksi pada 1 Januari 2015. Menurut Arief, Kota Tua Jakarta memiliki nilai sejarah yang tinggi, karena masih ditandai dengan arsitektural bangunan yang heritage.

Untuk jumlah pengunjung dalam laporan 3 bulan terakhir tahun lalu, yakni Oktober hingga Desember 2014 mengalami peningkatan. “Kita itu rata-rata 775 ribu orang per bulan, tapi pada bulan Desember lalu sudah tembus 900 ribu. Ini merupakan berita baik,” kata Arief.

Dengan peningkatan jumlah pengunjung tersebut, Arief akan menambah jumlah target pengunjung satu juta per bulan, sehingga dalam satu tahun akan tercapai 12 juta pengunjung. "Jika nanti Juni Juli sudah tembus pertama kali satu juta pengunjung, semoga untuk ke depannya mudah dicapai target kita," tambah Arief.

Sunday, January 25, 2015

Berenang Bareng Hiu di Selat Bali, Berani?


Pernah mencoba berenang dengan hiu? jika belum anda perlu mencobanya di Bangsring Underwater (Bunder) di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Ada 5 ekor hiu yang

siap menemani Anda berenang di kolam tengah Selat Bali ini.

Bangsring Underwater (Bunder) mulai dibuka oleh warga lokal pada Agustus 2014. Di sini wisatawan bisa melihat keindahan terumbu karang yang masih asli. Tak hanya itu, kawasan

yang masuk Selat Bali ini juga punya kolam dengan 5 ikan hiu. Turis bisa berenang di situ.

"Perlu kekuatan mental. Adrenalin meningkat saat masuk ke kolam jerambah yang berisi hiu," ujar Wisnu salah satu wisatawan dari Banyuwangi, kepada detikcom, Minggu (25/12015).

Lima ekor hiu berukuran setengah sampai 1 meter ini berkeliling sekitar wisatawan yang 'nyemplung' di kolam jerambah berukuran 3x3 meter di sekitar rumah apung Bunder.

Terkadang, hiu yang aktif mencoba menabrak tubuh wisatawan. Ini cukup‎ membuat kaget orang yang ditabrak hiu itu. Tapi tenang, hiu-hiu itu tidak akan mengigit. Sebab sebelum

diajak bermain, hiu-hiu itu terlebih dahulu diberi makan.

"‎Sebelum ‎diajak bermain kita kasih makan dulu. Meski sudah jinak tetap kita mewaspadai. Karena termasuk hewan liar juga," ungkap Yanto kepada detikTravel.

Di Bunder ini, kata Yanto, selain hiu terdapat pula ikan hias, kerapu dan lobster yang dipiara di ‎kolam jerambah disekitar rumah apung. Ini untuk pembelajaran bagi masyarakat

umum yang singgah di rumah apung Bunder.

"Kita sering melakukan pelatihan masyarakat. Kebanyakan adalah mahasiswa dari beberapa‎ universitas. Terkait dengan penyelamatan perairan dan juga terumbu karang," pungkasnya.

Untuk masuk ke wilayah Bunder tidak ditiketkan. Namun untuk menyebrang ke rumah apung, wisawatan wajib membayar jasa penyebrangan menggunakan boat Rp 10 ribu. Selain itu, di

Bunder ini juga menyewakan alat snorkeling dan sepatu katak, untuk melihat pemandangan bawah laut yang eksotis, dengan tarif Rp 35 ribu.


Friday, January 23, 2015

Inikah 'Neraka' di Thailand?

Black House di Chiang Rai, Thailand

Di Chiang Rai, Thailand ada objek wisata bernama Baan Dam atau Rumah Hitam . Auranya yang menyeramkan membuat tempat ini dijuluki sebagai 'neraka'. Penasaran?

Konon, di Kota Chiang Rai kita bisa menyaksikan surga dan neraka. Surga yang dimaksud yaitu Kuil Putih atau White Temple, sementara neraka yang dimaksud adalah Baan Dam atau

Black House (rumah hitam).

Ditempuh selama 45 menit dari pusat kota dengan menyusuri jalan kecil menuju perkampungan, kita bisa dengan mudah menemui sebuah bangunan yang besar dan hitam.

Bangunan Rumah Hitam dibangun oleh seorang seniman Thailand, Thawan Duchanee. Ketika melewati pintu masuk, kami disambut 2 buah patung raksasa yang diimpor dari Bali,

Indonesia. Membanggakan melihat hasil karya anak bangsa dipasang dipintu masuk tersebut.

Rumah Hitam ini merupakan sebuah bangunan kayu yang kokoh terbuat dari kayu jati dan didominasi oleh warna coklat tua dan hitam. Hitam adalah warna favorit sang seniman yang

baru saja wafat tahun 2014 lalu.

Menurutnya, warna hitam menggambarkan perjalanan sang Budha ketika berpetualang dan menyaksikan begitu banyak penderitaan umat manusia karena penyakit, umur tua dan kematian.

Tanduk kerbau warna hitam yang besar begitu menguasai ruang masuk museum dan ditata dengan apik. Gelondongan kayu jati tua yang besar menghiasi seisi rumah. Thailand memang

terkenal sebagai penghasil kayu jati terbaik di dunia selain Indonesia dan Myanmar.

Di bagian belakang rumah ada beberapa bangunan kecil yang menyimpan beberapa artefak seni yang memang sengaja dipasang oleh sang seniman untuk menggambarkan kehidupan pedesaan

khas Thailand. Sekilas sangat mirip seperti di Indonesia.

Untuk berkunjung ke sini tidak dikenakan biaya. Buka dari pukul 09.00-17.00 dan tutup pada saat jam makan siang pukul 12.00-13.00. Di sini ada sebuah coffee shop yang menjual

lukisan dan beberapa pernak-pernik dari Bali.

Seperti yang kita ketahui, ukiran dari Bali banyak diekspor ke Thailand karena konon lebih murah harganya dan tentu saja hasil karya yang begitu rapi.

Menelusuri Hutan Pelawan, Penghasil Madu Pahit di Pulau Bangka

Gerbang masuk Hutan Pelawan.
Pulau Bangka tak hanya terkenal akan pantainya saja. Wisata menelusuri hutannya pun tak kalah menarik, seperti Hutan Pelawan. Di sini, Anda bisa mengenal madu pahit yang khas dari Pulau Bangka.

Mau liburan ke Pulau Bangka, tapi bosan dengan pantai? Jangan khawatir, selain menyajikan panaroma alam berupa pantai dengan bebatuan granitnya, Pulau Bangka juga menawarjan jenis objek wisata lain sebagai alternatif. Salah satunya yang sedang ramai-ramainya didatangi pengunjung adalah objek wisata Hutan Pelawan.

Sesuai namanya, di dalam kawasan ini tumbuh begitu banyak pohon pelawan, salah satu jenis pohon yang konon hanya ada di Pulau Bangka. Apabila berkembang, maka kembang-kembang itu kelak akan dihisap oleh lebah madu. Inilah cikal bakal madu pahit dari Bangka. Menarik bukan?

Objek wisata Hutan Pelawan terletak di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, sekitar 30 meter dari Pangkalpinang. Untuk bisa sampai ke lokasi hutan ini pun cukup mudah. Pada pertigaan Desa Namang, masuk jalan arah barat atau arah matahari tenggelam. Bila dari Pangkalpinang, tinggal lurus saja pada pertigaan jalan itu.

Setelahnya, tinggal mengikuti petunjuk jalan. Hanya ada satu atau dua belokan yang tidak terlalu jauh. Setelahnya, kita akan disambut oleh hamparan sawah yang menghijau, utamanya bila usia padi sedang remaja seusia dengan manusia. Sekitar 3 kilometer lebih, maka sampailah di objek wisata Hutan Pelawan.

Objek wisata Hutan Pelawan memang terhitung baru sebagai destinasi wisata di Pulau Bangka. Pemerintah Kbaupaten Bangka Tengah sepertinya betul-betul serius menggarap sektor pariwisata sebagai sektor pengganti tambang yang sebentar lagi bakal menghilang. Buktinya, sejumlah tempat yang berpotensi menaik wisatawan pun dikemas sedemikian rupa.

Pantai-pantai dibangun cottage-cottage. Objek wisata yang sudah punya nama ditambah fasilitasnya. Hal yang sama juga dilakukann terhadap potensi berupa kumpulan pohon-pohon pelawan yang ada di Desa Namang. Menyadari besarnya potensi dari hutan tersebut bila dikembangkan, maka jadilah area wisata Hutan Pelawan yang sekarang mulai dikenal luas.

Perihal objek wisata Hutan Pelawan yang ada di Desa Namang itu, saya sudah terlampau sering mendengarnya. Setiap kali pulang ke kampung halaman saya yang terletak paling selatan Pulau Bangka, saya pun pasti melewati desa ini. Hanya saja, kala itu saya kurang tertarik menelusuri kawasan ini. Menurut saya, sepertinya tidak ada hal yang begitu menarik pada sebuah hutan, terutama hutan di Pulau Bangka yang sependek pengetahuan saya hampir sudah tidak ada lagi yang perawan.

Semuanya sudah diisi oleh pepohonan yang tumbuh silih berganti, akibat sistem berladang masyarakat Pulau Bangka, ditambah tambang timah yang seolah tak terkendali. Namun, saya penasaran juga akhirnya setelah sering melihat orang-orang memajang foto di telepon pintarnya dengan latar belakang hutan Pelawan, pun demikian foro-foto yang ditampilkan di sosial media. Sepertinya lumayan menarik. Maka, pergilah suatu ketika saya ke objek wisata Hutan Pelawan.

Saat itu, saya pergi bersama dua orang sepupu saya, Debri dan Agung Pratama, berangkat dari Pangkalpinang. Lalu, pada sebuah persimpangan jalan menuju objek wisata Hutan Pelawan, tiba-tiba kami bertemu dengan adik kandung saya, Anggun Saputra dan dua orang teman lain yang masih terhitung keluarga, Pratama dan Robby. Akhirnya, pergilah bersama-sama kami menuju area Hutan Pelawan.

Untuk bisa masuk ke dalam kawasan hutan ini, cukup hanya dengan membayar uang parkir motor sebesar Rp. 2.000 per motor. Murah bukan? Ya, sebagain besar objek wisata yang ada di Pulau Bangka memang belum banyak yang dikomersialkan.

Pelan-pelan, kami menelusuri kawasan hutann pelawan, melewati jalan selebar kurang lebih 1 meter yang sudah di semen. Sepanjang jalan, yang terlihat memang pohon berwarna merah yang dominan. Itulah pohon pelawan. Semakin dalam, semakin banyak kayu dengan warna seperti ini, pun jenis kayu lain yang lebih  besar.

Di dalam hutan, ada beberapa pondok untuk istirahat pengunjung. Pada bagian selanjutnya, barulah kami berjumpa dengan jembatan kayu berwarna merah. Inilah identitas objek wisata Hutan Pelawan. Jembatannya lumayan panjang. Pada  sebuah bagian, ada semacam pondok kecil berwarna coklat. Pondok ini cukup unik menurut saya. Bagaimana, tertarik menelusuri Hutan Pelawan?

Sunday, January 18, 2015

Di Jepang, Toilet Saja Bisa Jadi Obyek Wisata

Bangunan ini didesain sebagai rumah tradisional Jepang. Padahal ini sebenarnya toilet.

DESTINASI wisata ini berlokasi di jantung kota Tokyo. Tetapi anehnya, belum banyak wisatawan yang tahu tempat asyik ini, bukan hanya wisatawan asing, juga wisatawan dalam negeri.

Daerah yang mungkin kurang promosi sehingga banyak yang kurang mengenalnya. Tetapi bagi beberapa orang Tokyo yang suka jalan-jalan, pasti tahu daerah wisata ini karena memang dilestarikan dengan baik budaya lama Jepangnya.

Tempat asyik ini lokasinya tak lain adalah di dekat stasiun kereta api bawah. Namanya stasiun Kiyosumi Shirakawa, langsung cari pintu keluar A3. Di depan mata, menyeberang jalan, langsung kita akan menemukan "Taman Kiyosumi" yang luasnya 8 hektar lebih. Taman tradisional Jepang dengan kolam ikan dan batu-batuan ala Jepang sangat indah sekali.

Masih dari pintu ke luar A3 tadi, kalau kita ke kiri, lalu menemukan jalan kiri, kita ke kiri lagi. Nah sebelah kiri jalan ada toilet sangat menarik. Dari penampakan luar, model rumah tradisional Jepang.

Semula saat saya ke sana, saya mengira ini adalah rumah kuno yang dilestarikan atau ada perayaan sesuatu. Tapi setelah melihat dengan teliti, ternyata kamar-kamar toilet yang satu untuk lelaki dan satu lagi untuk perempuan.

Toilet saja dibuat sangat khusus dengan model rumah tradisional Jepang. Lengkap dengan lampu kuno gaya zaman Edo Jepang di depan toilet, indah sekali. Jelas ditujukan untuk kalangan wisatawan, tetapi juga untuk masyarakat umum. Siapa pun boleh masuk ke sana dan gratis tak perlu bayar apa pun.

Seperti toilet biasa lainnya di Jepang, toilet ini sangat teratur baik, bersih dan indah, lengkap dengan tisu atau pengeringnya. Padahal semua gratis. Maklum ada anggaran pemda setempat khususnya dewan pariwisatanya.

Guna menjaga keindahan lingkungan wisata itu pun, di depan toilet terpasang papan pengumuman Larangan Menaruk Sepeda di sana. Sayangnya semua Bahasa Jepang sehingga kalau ada orang asing ke sana pakai sepeda, tak bisa baca, mungkin akan menaruh sepedanya begitu saja di sana.

Di sebelah kiri toilet ada toko kelontongan tradisional Jepang. Menarik karena seolah kembali ke zaman kunio epang. Di depan toilet itu pun saja juga, ada toko yang menjual barang-barang kelontongan produk masa lampau Jepang. Bahkan si penjual dengan baju pedagang kuno Jepang berusaha bergaya seperti street performer di depan tokonya sehingga bisa lebih menarik bagi orang yang lalu-lalang ketimbang tokonya.

Kuil Khusus

Daerah jalan toko-toko kuno tersebut dulunya tahun 1961 merupakan deretan toko-toko (Shotengai) sejumlah 100 toko. Namun kini hanya tinggal beberapa toko kuno saja. Selebihnya jadi sarana lain seperti tempat pendidikan, kantor, atau rumah tinggal baru.

Tidak jauh dari toko itu pula, ada kuil khusus bagi orang yang bergerak di bidang bisnis seperti broker tanah. Bagi pengusaha sangat disarankan ke kuil ini karena dewa khusus perdagangan di kuil ini dipercaya cukup ampuh dan percaya bisnisnya akan jadi sukses nantinya setelah melakukan ibadah di kuil kecil tersebut. Itulah kuil Shusse Fudouson atau Chousenin Fudouji, yang berwarna merah.

Masih satu deret dengan toilet tadi, jalan sedikit beberapa langkah sebelah kiri ada kuil Reiganji yang didirikan tahun 1624. Di dalam lokasi kuil ini juga ada sekolah Taman Kanak-kanak dengan bangunan dua lantai modern, serta taman sekelilingnya. Cukup luas memang lokasi kuil dan sekolah milik satu Yayasan Reiganji.

Melanjutkan perjalanan, semakin ke dalam lagi di sebelah kiri ada Museum Dokumen Edo. Daerah Kiyosumi Shirakawa ini memang sebenarnya daerah wisata kuno yang kurang populer. Banyak kuil kecil-kecil di sana mungkin menarik bagi yang suka jalan-jalan sambil beribadah. Namun sembari melihat-lihat tenpat-tempat kuno juga di sekitarnya.

Ada sedikitnya empat lokasi wisata berdekatan menarik kita kunjungi, cukup jalan-jalan sehari dari pagi hingga sore hari. Kecuali memasuki taman Kiyosumi dan Museum Dokumen Edo Fukagawa yang keduanya harus bayar, lokasi wisata lain gratis, dapat kita tengok pelan-pelan budaya lama Jepang yang masih terlestarikan di daerah ini. Kemudian apabila mau jalan kaki sekitar 25 menit dari daerah wisata itu, kita bisa menemukan Ryogoku, tempat stadion utama pertandingan Sumo di Jepang.

Saturday, January 17, 2015

Ruang Publik Pantai di Thailand Makin Luas

Pantai Pattaya

Thailand tengah menempatkan aturan zona baru untuk mengurangi area kursi pantai dan payung sehingga lebih ada ruang untuk para wisatawan berjemur menikmati matahari. Pantai-

pantai yang mendapatkan zona baru ini adalah Pattaya dan Jomtien.

“Kebijakan pengaturan zona terbaru ini diberlakukan berdasarkan Peraturan Daerah yang bertujuan untuk menyediakan ruang publik pantai dan meningkatkan pengalaman wisatawan.

Wisatawan dapat memilih untuk bersantai di hamparan pasir yang luas atau mencari kursi pantai dan payung di area yang sudah disiapkan," kata Suladda Sautilavan, Direktur

Tourism Authority of Thailand (TAT) kantor Pattaya.

Di bawah regulasi zona yang baru, pantai Pattaya dan Jomtien sekarang menawarkan 10 meter uang publik berupa pantai berpasir yang kosong. Zona lainnya adalah pantai kosong

setiap 100 meter zona dengan kursi pantai, payung, dan pedagang yang terpisah setiap satu meter.

Pantai Pattaya yang terbentang sejauh 2,9 kilometer ini sekarang menawarkan ruang publik dengan luas 1,75 kilometer atau 60 persen dari total area. Sedangkan di pantai

Jomtien, dari 5,9 kilometer pantai terdapat ruang publik seluas 3,4 kilometer atau sekitar 58 persen dari luas yang ada. Area yang tersisa di kedua pantai digunakan sebagai

area untuk kursi-kursi pantai dan payung rental.

Sebagai tambahan, pihak otoritas telah menyatakan setiap hari Rabu sebagai hari libur untuk para penjual yang berbisnis di pantai Pattaya dan Jomtien. Hal ini untuk memberikan

ruang lebih bagi publik, baik untuk orang-orang lokal ataupun bagi para wisatawan.

Sebelum pantai Pattaya dan Jomtien, regulasi zona ini pernah di diperkenalkan di pantai Phuket, Prachuap Khiri Khan (Hua Hin), dan Chon Buri (Bang Saen) untuk memastikan

wisatawan internasional dan turis-turis lokal dapat menikmati pantai saat mengunjungi destinasi resor kebanggaan Thailand.

“Kami menghargai pemerintah Thailand dan pemerintah daerah dalam upaya mereka untuk mengembalikan pesona alam daerah wisata yang mempesona, sehingga pengunjung dapat menikmati

mereka tanpa halangan. Kami berharap dengan keindahan pantai-pantai ini dapat menarik lebih banyak wisatawan asing untuk datang ke Thailand dan merasakan pengalaman Thailand

yang mengesankan," kata Suladda.

Bersenang-senang Menyelam di Dodola

Wisatawan menikmati keindahan alam Pulau Dodola, Morotai, Maluku Utara, Jumat (14/9/2012). Pulau Dodola merupakan salah satu objek wisata di Morotai yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

PASIR putih menghampar, laut biru muda bening kaca, pepohonan nyiur memagari pesisir. Atapnya, langit biru berpadu awan putih. Kami bagaikan berada di negeri dongeng. Ketika

surut, Dodola semakin menunjukkan kemolekannya. Pasir putih merayu kami untuk bermain di atasnya.

Pulau di barat laut Durabi ini menjanjikan kami fun dive. Kedalaman hanya sekitar 15 sampai 20 meter dengan pemandangan didominasi pasir. Boleh jadi daerah ini dapat disebut

patchy reef. Tutupan karangnya berkelompok terpisahkan pasir yang luas. Tiap kelompok karang biasanya terdapat table coral dan leather coral.

Terlihat juga beberapa giant kima dan trigger fish, juga clown fish bermain di sekitar anemon yang tebal. Bila mempunyai lebih banyak waktu, kita bisa menunggu banyak belut

kecil (garden eel) keluar dari pasir menyerupai rumput. Namun, kami harus waspada terhadap ikan pari serta kawanan hydroid sejenis soft coral yang akan terasa panas seperti

terbakar jika tersentuh kulit (karang penyengat).

Sebelum mencapai Dodola, kami sempat menyinggahi Pulau Zumzum, berkas markas Jenderal Douglas MacArthur. Di sini masih banyak tersebar mesiu aktif, serpihan mesiu, juga

puing-puing tongkang yang hampir rata dengan pasir. Menurut penduduk, dulu pernah digunakan sebagai jembatan penghubung ke pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Lima menit berjalan masuk ke hutan, terdapat Monumen MacArthur. Bagi masyarakat Morotai, sang jenderal dianggap berjasa karena telah membebaskan mereka dari kekejaman kerja

paksa saat penjajahan Jepang.

Tuesday, January 13, 2015

Dilarang Berenang di Laut Mati

laut mati

JIKA Anda adalah seorang perenang ulung, sangat disayangkan. Pasti Anda tidak akan dapat menikmati Laut Mati dengan kemampuan Anda tersebut.

Menempuh perjalanan dari Eilat, kota pertama di Israel yang kami tapaki begitu keluar dari wilayah Mesir menuju Ein Boqeq yang berada persis di tepi Laut Mati sungguh sangat membosankan pemandangannya. Wilayah selatan Israel memang gersang. Sekilas ada beberapa lokasi yang dijadikan kebun kurma.

Kalau saja tidak mampir makan es krim yang lezat dan menyegarkan di daerah Yotvata, maka lengkaplah penderitaan di musim panas yang sedang dialami Israel. Suhu di luar minibus yang membawa kami hampir mencapai 40 derajat Celcius. Ditambah kelelahan yang belum hilang akibat naik-turun Gunung Sinai dini hari hingga pagi.

Akhirnya sekitar pukul 05.00 sore waktu setempat kami tiba di Ein Boqeq, tepatnya di sebuah resor di tepi Laut Mati. Resor yang sangat ramai karena pada saat itu sedang liburan sekolah musim panas. Tidak heran resor tersebut penuh dengan anak-anak dan remaja yang berlibur bersama orang tuanya.

Dalam perjalanan menuju Ein Boqeq, pemandu wisata dengan sabar dan dalam Bahasa Inggris yang sangat baik, menegaskan dengan seksama cara yang tepat untuk menikmati Laut Mati. Yang pertama ditekankan bahwa tidak perlu kuatir akan tenggelam jika tidak dapat berenang. Yang kedua adalah tidak perlu berenang di Laut Mati, sekalipun dunia tahu bahwa Anda perenang ulung sekalipun. Loh jadi bagaimana ?

Cukup dengan pakaian renang yang pantas, kita merendamkan diri di tepi Laut Mati. Tetapi ingat, jangan masukan semua bagian kepala Anda ketika berendam. Boleh juga mengambil posisi terlentang seperti tidur. Nah, cuma begitu saja loh aktivitasnya. Sambil berendam tentu saja Anda dan rekan dapat ngobrol atau sambil terlentang membaca buku kesayangan Anda. Tetapi sangat tidak dianjurkan saling mencipratkan air ke bagian wajah.

Anda boleh berada di dalam air selama maksimum 20 menit saja. Setelah itu segera bilas dengan air tawar yang berada di dekat lokasi penjaga pantai. Setelah dibilas dengan air tawar silakan kalau mau masuk ke dalam Laut Mati lagi untuk berendam atau mengapung terlentang selama 20 menit berikutnya. Biasanya memang jarang ada pengunjung yang berlama-lama berendam.

Sunday, January 11, 2015

Melihat Keindahan Kuta Malaka

Air Terjun Kuta Malaka di kawasan Samahani, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (3/1/2015). Tempat wisata ini menyimpan keindahan yang masih asri.

Bunyi gemercik air yang tumpah. Nyanyian burung berlomba dengan jangkrik. Aroma khas udara berembus sepoi-sepoi dari pepohonan hutan. Ketiganya bersatu menenteramkan jiwa dan mendamaikan pikiran kala menikmati Air Terjun Kuta Malaka, keindahan alam yang tersembunyi di balik gugus Bukit Barisan di Kabupaten Aceh Besar.

Keindahan Air Terjun Kuta Malaka yang berada di kawasan Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar, terekam Sabtu (3/1/2015). Jarak lokasi air terjun itu sekitar 45 kilometer dari Banda Aceh. Sepeda motor atau mobil dua gardan lebih cocok untuk menuju lokasi itu

Awal perjalanan terasa nyaman. Jalan sepanjang 30 kilometer dari Banda Aceh ke Samahani mulus dan sepi kendaraan. Jalan itu pun dikelilingi pemandangan sawah hijau yang terbentang di sisi kiri dan kanan. Di sisi kiri jalan tampak pula di kejauhan Gunung Seulawah Agam yang gagah.

Memasuki kawasan Samahani, pengunjung merasakan perjalanan sesungguhnya. Jalan sepanjang 15 kilometer menuju lokasi Air Terjun Kuta Malaka masih tanah merah.

Ketika musim hujan, jalan itu becek sehingga menyulitkan kendaraan yang tidak didesain untuk lintasan ekstrem. Jalan itu pun harus melewati enam anak sungai yang rata-rata berkedalaman 40-80 sentimeter. Tidak ada jembatan untuk melintasi sungai-sungai tersebut. Perjalanan melintasi jalan itu akan memberikan sensasi memicu adrenalin. Dalam perjalanan, pengunjung bisa berhenti sejenak untuk menikmati kejernihan air sungai di lintasan tersebut yang masih alami.

Sekitar 5 kilometer mendekati lokasi Air Terjun Kuta Malaka, jalanan datar berubah jadi menanjak dan berkelak-kelok. Jalanan pun licin, terutama ketika musim hujan sehingga rawan membuat kendaraan terperosok dan slip.

Tantangan melewati jalan tanah merah, sejumlah anak sungai, dan tanjakan sekitar 30 menit terobati ketika sampai di puncak dekat pintu masuk Air Terjun Kuta Malaka. Di puncak ke arah timur, pengunjung dapat melihat pemandangan indah, perpaduan latar depan jajaran bukit sabana, daratan Aceh, dan latar belakang Selat Malaka yang tampak samar.

Masuk ke Air Terjun Kuta Malaka, pengunjung harus membayar uang retribusi Rp 5.000 per orang.

Air Terjun Kuta Malaka terletak sekitar 200 meter dari pintu masuk ke dalam hutan. Pengunjung harus berjalan kaki melewati 412 anak tangga, dinaungi pepohonan rindang nan sejuk. Pengunjung disambut siulan suara burung dan jangkrik yang seolah mengucapkan selamat datang.

Air Terjun Kuta Malaka dialiri air dari pegunungan yang jernih dan dingin. Jernihnya air membuat dasar telaga di bawah air terjun dapat terlihat dan dari permukaan air telaga tersebut tampak berwarna kehijauan.

Air Terjun Kuta Malaka bertingkat tujuh hingga ke puncak pegunungan. Setiap tingkat air terjun itu berketinggian 3-6 meter. Setiap air terjun memiliki telaga di bawahnya, yang berkedalaman rata-rata 100-200 sentimeter dengan lebar 200-300 sentimeter.

Pengunjung dapat bermain perosotan air, meluncur dari puncak ke telaga di setiap tingkat air terjun. Pengunjung juga dapat berenang di telaga air terjun. Bagi yang tidak dapat berenang, duduk santai menikmati suara gemercik air, nyanyian burung dan jangkrik, serta menghirup dalam-dalam aroma udara yang berembus dari pepohon hutan di tepian telaga pun lumayan. Pengunjung yang tidak dapat berenang juga bisa berendam di telaga yang dangkal.

Namun, keindahan yang masih alami terusik ulah nakal sebagian pengunjung. Mereka membuat sejumlah mural bernamakan seseorang di dinding air terjun. Mural dibuat dengan cara mengikis batu dinding air terjun.

”Mural telah mencoreng keanggunan air terjun ini, sayang sekali. Seharusnya ada petugas yang mengawasi keasrian air terjun,” ujar Reinal (19), pengunjung, mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

Banyak sampah plastik bekas makanan dan botol sisa minuman berserakan di pinggiran telaga air terjun. ”Sampah-sampah ini mengurangi kenyamanan orang yang ingin berenang atau duduk di pinggiran air terjun,” ucap Rais (18), mahasiswa pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Upaya pengembangan

Air Terjun Kuta Malaka mulai dilirik wisatawan setelah perundingan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia tahun 2005. Sebelumnya, lokasi itu terisolasi karena menjadi markas GAM. Sering terjadi baku tembak antara GAM dan TNI di lokasi itu.

Seiring kondusifnya lokasi di sana, wisata Air Terjun Kuta Malaka mulai dilirik wisatawan lokal dan luar Aceh. Berdasarkan data penjaga pintu masuk, jumlah pengunjung ke air terjun itu rata-rata 20 orang per hari pada hari kerja dan melonjak 100-200 orang per hari pada hari libur atau akhir pekan.

Pengembangan Air Terjun Kuta Malaka terkendala infrastruktur penunjang yang masih sangat minim, seperti jalan, penerangan jalan, toilet atau tempat wisatawan berganti pakaian, dan kafetaria. Selain itu, promosi juga masih minim.

Menanggapi itu, pemerintah setempat terus berupaya mengembangkan kawasan Air Terjun Kuta Malaka. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Besar bekerja sama dengan dinas lain berusaha membangun tangga masuk dan batas wilayah hutan di lokasi air terjun itu.

”Kami juga mengajak pihak swasta untuk membangun jalan aspal dari Samahani menuju lokasi air terjun ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Besar Muhammad Ali. Proyek itu ditargetkan selesai akhir 2015.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi mengatakan, pengembangan sektor pariwisata memang sangat membutuhkan dukungan banyak pihak.

Friday, January 9, 2015

McDonald's di Taiwan Punya Kostum Pelayan Paling Seksi!

Pelayan berkostum 'maid' di McDonald's Taipei

Taipei - Restoran cepat saji McDonald's terkenal punya menu berbeda di tiap negara. Tapi siapa sangka, McDonald's juga punya seragam karyawan yang berbeda di Taipei, Taiwan. Mungkin inilah kostum pelayan McDonald's paling seksi.

Berkunjung ke McDonald's, kostum pelayan seperti apa yang ada di benak Anda? Pasti seragam kombinasi warna gelap atau terang khas McDonald's. Tapi siapa sangka, di Taiwan, traveler akan menemukan pelayan dengan kostum berbeda.

Datanglah ke cabang McDonald's yang persis berada di seberang Taipei Station. Di sini, Anda akan dilayani oleh para gadis cantik berkostum pelayan (maid). Seperti maid cafe di Jepang!

Dari Youtube, Jumat (9/1/2014), para pelayan McDonald's ini mengenakan kostum pink-putih lengkap dengan pita dan bando berenda. Sambil tersenyum manis, mereka berdiri di belakang meja kasir dan melayani pengunjung.

Pihak manajemen McDonald's di Taipei tampaknya sengaja menyeleksi pelayan di sini. Para gadis ini semuanya berparas cantik. Pada video yang diunggah di Youtube, komentar pun bermunculan.

"She is so cute! Very lovely. McDonald's done right," demikian aneka komentar yang ada.

Asyiknya Belanja Oleh-oleh Lengkap di Tanah Abang

Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat

Jakarta - Liburan akhir pekan di Jakarta, jangan lupa mampir ke Pasar Tanah Abang. Pasar ini cocok sekali untuk beli oleh-oleh karena barang yang dijual sangat lengkap. Saking komplitnya, barang khas luar negeri juga dijual di sini.

Pasar yang terletak di Jakarta Pusat ini selalu ramai oleh pengunjung. Selain barang yang lengkap, murahnya harga dan tempat belanja yang nyaman bisa membuat Anda betah belanja seharian di sini.

Pasar Tanah Abang menjual aneka kebutuhan seperti pakaian, aksesoris dan sepatu dengan harga murah. Beberapa toko hanya menjual barang secara grosir, tetapi banyak juga yang memperbolehkan Anda untuk membeli satuan.

detikTravel berkesempatan mengunjungi blok A, B dan F Pasar Tanah Abang pada hari Jumat (9/1/2015). Saat memasuki lobi blok A, angin segar dari pendingin ruangan terasa sekali. Lantai yang bersih dan lampu-lampu yang menyala membuat suasana di Pasar Tanah Abang terasa bagaikan mal.

Toko-toko tertata rapi dan terlihat banyak pengunjung yang hilir mudik memilih belanjaan. Di setiap lantai ada pengelompokan toko sesuai jenis barangnya. Misalnya aksesoris di lantai 3 dan 3A, pakaian muslim dan mukena di lantai 5 serta sepatu di lantai 7.

Barang yang dijual tidak hanya produksi lokal tetapi banyak juga impor dari luar negeri. Ada toko yang menjual oleh-oleh haji hingga barang-barang khas Thailand dan India.

Toko oleh-oleh impor tersebar di blok A dan B. Jadi, Anda tidak perlu jauh-jauh keluar negeri untuk belanja oleh-oleh impor ini.

Harga yang dijual di pasar cukup murah dibanding pasar lainnya. Semakin banyak barang yang Anda beli tentunya semakin murah harga yang bisa Anda dapatkan. Jangan takut untuk menawar harga di pasar ini.

"Harganya murah dan terjamin kualitasnya," ujar Kokom, wanita asal Tangerang yang berbelanja di blok A.

Fasilitas umum seperti toilet dan musala juga ada. Area yang menjual makanan pun tersedia. Sehingga meningkatkan kenyamanan para pengunjung.

"Harganya murah, gedungnya sudah adem. Fasilitas sudah lumayan, ada wc," ucap Erna, warga Bekasi.

Selain itu, Pasar Tanah Abang cukup mudah dijangkau. Jika Anda naik bus TransJakarta, Anda bisa turun di halte Sarinah kemudian jalan kaki atau naik ojek sampai ke pasar. Pasar buka setiap hari dari pagi hingga sekitar pukul 16.00.

Saat akhir pekan pasar ini selalu dipenuhi pengunjung. Sebaiknya Anda sempatkan mampir di hari Senin-Jumat karena pengunjung tidak seramai akhir pekan.

Sunday, January 4, 2015

Pantai Marina Bantaeng, Destinasi Wisata Baru di Sulsel

Hotel ini tak kalah dengan fasilitas hotel berbintang.

Bantaeng kini mulai unjuk gigi sebagai destinasi wisata baru di Sulawesi Selatan. Bantaeng memiliki Pantai Marina yang disuka wisatawan untuk liburan di akhir pekan.

Pantai yang indah ini letaknya di perbatasan Bulukumba-Bantaeng. Pantai ini disukai wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Sungguh menakjubkan dan membuat saya tak bosan mengujungi tempat ini. Pantai marina punya indahnya lautan yang membiru, pasir yang putih, dan dilengkapi fasilitas lainnya. Pemandangn alam di kawasan ini sungguh indah.

Dengan sebutan Marina Beach, pantai ini menyediakan tempat penginapan dan mini car sebagai fasilitas untuk mengelilingi keindahan pantai ini. Di sini juga terdapat warung-warung kecil yang menyediakan khas makanan sulawesi contohnya Kapurung, barobbo, dan minuman sara'bba.

Pantai Marina banyak dikunjungi oleh para wisatawan pada saat hari libur. Tarif untuk masuk di kawasan pantai ini tidak mahal, hanya Rp 5.000 per orang. Wow, inilah yan membuat para pengunjung tak bosan-bosannya ke sini untuk menghilangkan suasana bosan menjadi senang dan tentram.


Friday, January 2, 2015

Mengenal Pangkalan Bun, Kota Tempat Posko Pencarian AirAsia

Bundaran Pancasila yang paling hits di Pangkalan Bun

Fakta lainnya, Pangkalan Bun merupakan lokasi penerjunan pertama oleh tentara Indonesia dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan. Buktinya dapat Anda temukan jika berkunjung ke Monumen Palagan Sambi. Anda dapat melihat catatan sejarahnya, sampai pesawat asli yang dipergunakan.

Kalau mau merasakan menjadi anak gaul Pangkalan Bun, wisatawan bisa pergi ke Bundaran Pancasila. Bundaran ini ibaratnya Monas atau Bundaran HI di Jakarta. Di kala malam, bundaran ini jadi salah satu tempat hits untuk berkumpul anak muda di Pangkalan Bun.

Untuk Anda yang suka buah durian, Pangkalan Bun juga punya durian lokal bernama Lay. Selain tidak kalah nikmat seperti durian bangkok, warnanya juga kian menggoda untuk disantap. Mantap lah pokoknya.

Apabila ingin berkeliling Pangkalan Bun, maka moda transportasi terbaik adalah melalui jalur air. Letak Pangkalan Bun di sepanjang Sungai Arut, membuat kota ini nyaman dijelajahi menggunakan perahu klotok tradisional.

Cuaca di Pangkalan Bun sendiri cenderung lembab, sesuai dengan karakteristiknya sebagai hutan hujan tropis. Bulan Juni dan Oktober merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Pangkalan Bun.

Bagi Anda yang mau berkunjung ke Pangkalan Bun, terdapat Bandara Iskandar yang melayani penerbangan komersil dari beberapa kota besar di Indonesia. Anda bisa pergi ke Pangkalan Bun dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan tentunya beberapa kota di Kalimantan.

Ada Burung Surga di Raja Ampat!

Cendrawasih Merah yang sedang menari di Desa Sawinggrai, Raja Ampat 

Raja Ampat - Burung Cendrawasih punya julukan, 'Bird of Paradise' alias burung surga. Berkunjung ke Papua Barat tepatnya Raja Ampat, traveler bisa melihat burung ini di habitat aslinya yakni Desa Sawinggrai.

Desa Sawinggrai terletak di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat. Mencapai desa pulau ini butuh 1-2 jam perjalanan speedboat dari ibukota Kabupaten Raja Ampat, yakni Waisai.

Sawinggrai adalah salah satu desa terbaik untuk birdwatching, selain juga Arborek yang letaknya berdekatan. Waktu terbaik untuk melihat Cendrawasih adalah pukul 06.30-07.30 WIT, atau 16.30-18.30 WIT. Ini adalah waktu-waktu burung Cendrawasih melakukan 'tarian'.

Burung yang hidup di Desa Sawinggrai adalah Cendrawasih Merah, atau 'Red Bird of Paradise'. Namun selain itu, ada beberapa jenis lain yang lebih langka yakni Wilson's Bird of Paradise, Lesser Bird of Paradise, juga Greater Bird of Paradise.

detikTravel menyambangi Desa Sawinggrai beberapa waktu lalu, di sela-sela tur 'Let's Go Raja Ampat' yang diadakan PT Pelni (Persero). Pukul 06.00 WIT, rombongan tiba di pelabuhan Desa Sawinggrai. Kami kemudian trekking sekitar 30 menit, mendaki sampai atas bukit, untuk melihat penampakan Cendrawasih.

Benar saja. Hampir sampai di puncak bukit, suara kicauan burung terdengar jelas. Di sela-sela pohon, dua burung Cendrawasih Merah sedang melakukan tarian. Sebuah keberuntungan bisa melihat fenomena ini!

Tarian itu berlangsung cukup lama, sekitar 20-30 menit. Matahari mulai naik, sinarnya menembus dari sela-sela pepohonan. Wisatawan yang ikut tur 'Let's Go Raja Ampat' pun terhipnosis keindahan Cendrawasih Merah.

Friday, December 26, 2014

Tempat Wisata Baru di Semarang, Waduk Jatibarang!

Waduk Jatibarang, tempat wisata baru di Semarang

Semarang - Semarang bisa jadi destinasi akhir tahun atau liburan panjang kali ini. Tak jauh dari pusat kotanya, ada tempat wisata baru yang menyajikan panorama alam menawan. Ini dia Waduk Jatibarang!

Waduk yang terletak di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati itu tepat berada di kawasan wisata yang sebelumnya sudah ada yaitu Goa Kreo. Jika datang ke sini, pengunjung disuguhi dua wisata sekaligus, yaitu menikmati keindahan alam dan bermain dengan kera ekor panjang.

Pada liburan kali ini, pengunjung sangat banyak karena tiket masuk memang murah, hanya sekitar Rp 4.000 saja. Penjual makanan berupa kios ataupun lapak sudah berjajar dan siap melayani wisatawan yang ingin makan sambil melihat eloknya bentangan waduk yang mampu menampung total air sebanyak 20,4 juta m3 itu.

"Kalau liburan memang sangat ramai pengunjungnya," kata tokoh masyarakat Desa Kandri, Kasmani kepada bali333 travel belum lama ini.

Di tempat parkir mobil, pengunjung sudah bisa melihat kera-kera yang bergelantungan di pohon atau pagar. Mereka semua jinak dan tidak merebut barang-barang dari pengunjung. Oleh sebab itu pengunjung pun senang memberi makan mereka dengan kacang.

Puas bermain dengan kera, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menuruni 108 anak tangga menuju jembatan yang berada di atas waduk Jatibarang dan menghubungkan gerbang masuk menuju Goa Kreo. Titik inilah yang menjadi favorit pengunjung karena bisa berfoto dengan latar belakang pemandangan waduk atau bersebelahan dengan beberapa patung kera di sana.

Bedungan panoramik yang menyuguhkan pemandangan indah itu diresmikan bulan Mei 2014 lalu oleh Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bangunan waduk itu memiliki tinggi 74 meter, panjang puncak 200 meter, dan lebar puncak 10 meter. Dana yang dihabiskan untuk membangun waduk Jatibarang dan bangunan perlengkapannya mencapai Rp 655 miliar bantuan dari JICA, Jepang.

Perpaduan antara wisata goa Kreo dan waduk Jatibarang menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Tapi ingat, jika berkunjung saat liburan kali ini jangan lupa membawa payung karena Kota Semarang kerap diguyur hujan saat siang hari.

Wednesday, December 17, 2014

Inikah Jalan Raya Paling Tinggi di Dunia?


Ladakh - Bisa menjajaki Puncak Everest adalah impian traveler. Kalau pun tidak bisa, menjajaki Khardung La di Ladakh, India sudah sangat menyenangkan. Tempat ini disebut sebagai jalan raya tertinggi di dunia!

Traveling ke negeri kari India, tidak melulu soal Sungai Gangga dan Taj Mahal. Selain dua tempat tersebut, bagian India di Jammu dan Kashmir pun menarik. Saat detikTravel berkunjung ke Ladakh yang berbatasan dengan Tibet dan Tiongkok beberapa pekan lalu, sempat menuju Khardung La.

Khardung La sendiri merupakan jalan tertinggi yang dapat dilalui kendaraan di dunia. Bukan tanpa alasan, jalan ini terletak di dataran tinggi yang diselimuti salju, dengan ketinggian 5.610 meter di atas permukaan laut. Wow, bukan main!

Jalanan pun menjadi tantangan utama untuk mencapai Khardung La. Jalanan berbatu dan berkelok, serta jurang di sisi kiri dan kanan, menghiasi perjalanan menuju Khardung La. Udara pun sangat dingin, mengingat salju yang ada ketika mencapai ketinggian tertentu.

Hal utama yang perlu dipersiapkan adalah kesiapan mental dan kondisi kendaraan yang sehat, naik motor atau mobil tidak masalah. Namun satu yang perlu diingat, tidak ada pom bensin di sepanjang jalan menuju Khardung La. Cadangan bensin pun perlu dibawa untuk jaga-jaga.

Untuk mencapai Khardung La, Leh di Ladakh menjadi starting point. Khardung La sendiri terletak sekitar 39 Km dari Leh. Dibutuhkan setidaknya lima jam perjalanan darat dari untuk menuju Khardung La dengan kendaraan.

Tapi perlu diingat, Anda perlu untuk melakukan aklimatisasi dahulu selama dua hari di Leh. Alasannya, tubuh perlu untuk menyesuaikan suhu terlebih dulu agar tidak kaget. Apabila tanpa aklimatisasi, ada kemungkinan badan tidak siap, bahkan berakibat hingga kematian!

Selain menantang, berkendara menuju Khardung La akan memberikan pengalaman dan sensasi tersendiri. Selain bukti karena telah mencapai jalan tertinggi yang dapat dilalui kendaraan di Dunia, juga menjadi kepuasan batin yang tidak terhingga.

Rasa puas pun makin menjadi-jadi, khususnya saat berjalan dan memegang salju secara langsung di Khardung La. Tangan memang menggigil dan mati rasa, tapi sepadan.

Apabila Anda melanjutkan perjalanan, Anda akan menuju ke Nubra Valley dan Shyok. Adakah dari Anda yang ingin touring ke Khardung La hingga Nubra Valley?

Tags: judipokeronline , pokerbali

Sunday, December 14, 2014

Menyaksikan Indahnya Senja di Pulau Maratua





Berau - Tenggelamnya sang surya menjadi momen sendiri saat berkunjung di Pulau Maratua, Berau, Kalimantan Timur. Pancaran warna jingga dipantulkan indah, selaras dengan birunya laut.

Detik-detik turunya matahari di Pulau Maratua terjadi sekitar pukul 17.00 WITA. Hal tersebut, tentu tidak dilewatkan oleh para pelancong yang datang ke pulau tersebut.

Seperti yang detikcom lakukan bersama teman-teman wartawan yang dibawa oleh The Nature Conservancy, Sabtu (13/12/2014). Jingganya langit membuat beberapa wartawan dan relawan berlomba-lomba mengabadikan hal tersebut.

Bahkan, sampai ada satu orang diminta dijadikan objek indahnya pantulan cahaya jingga yang dihasilkan. Beruntung awan gelap tidak menutupi bulatnya sang surya.

Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Berau, jangan lupa untuk menyaksikan salah satu sunset terbaik di Indonesia. Untuk menikmati sunset para wisatawan bisa menginap di paradise resort yang memiliki penginapan di atas laut dan di pantai.